Selasa, 05 Mei 2015
Pengertian Terapi
Keluarga
Menurut
Kartini Kartono dan Gulo (1987) dalam Kamus Psikologi, Family Therapy (terapi keluarga) adalah suatu bentuk terapi
kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota
keluarganya, oleh sebab itu seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam usaha
penyembuhan. Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola
interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga
(Somaryato & Astutik, 2013). Sedangkan menurut Roberts & Greene, 2008)
terapi keluarga adalah bentuk terapi relasi (a relationship form of therapy) dan terapi ini sering dipraktikkan
dalam suatu kerangka system, model-model keluarga memandang masalah-masalah
individual dalam kaitan dengan orang lain dalam keluarga dan bekerja dengan
anggota-anggota keluarga untuk mengubah pola-pola keluarga yang disfungsional.
Berdasarkan
pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi keluarga adalah
suatu bentuk terapi dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien
dengan anggota keluarganya yang bertujuan untuk mengubah pola-pola keluarga
yang disfungsional sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga.
Cara melalukan Terapi Keluarga
:
1.Pemeragaan : Memperagakan ketika masalah
itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar,
maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan
saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Komunikasi dalam keluarga
paling penting.
2. Homework
:
Mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya
3. Family
Sculpting : Cara untuk mendekatkan diri dengan anggota
keluarga yang lain dengan cara nonverbal
4. Genograms
:
Sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi
tentang keluarga. Genogram adalah sebuah diagram tersetuktur dari system
hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari system
hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik.
Manfaat Terapi Keluarga
1.Memperbaiki hubungan interpersonal
pasien dengan tiap anggota keluarga
2. Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga
sehingga peran masing-masing anggota lebih baik
3. Keluarga mampu meningkatkan
pengertiannya terhadap pasien sehingga lebih dapat menerima dan lebih
menghargai pasien
Kasus-Kasus yang
diselesaikan dalam Terapi Keluarga
1. Krisis keluarga yang mempengaruhi
seluruh anggota keluarga
2. Ketidakharmonisan seksual perkawinan
3. Konflik keluarga dalam hal norma atau
keturunan
Cari dan Rangkum Satu
Contoh yang Menggambarkan Terapi Keluarga
Anna
Thompson adalah seorang anak Amerika-Afrika berusia 10 tahun. Ana mendatangi
dokter karena diminta oleh ibunya, Mrs. Thompson, yang memergoki Anna sedang
melukai pergelangan tangannya dengan pisau. Dokter mengatakan bahwa Anna tidak
mengalami luka serius dan merekomendasikannya pergi ke psikiatri rumah sakit
untuk mendapat evaluasi. Mendapati anaknya mengalami gangguan perasaan, yakni
depresi, Mrs. Thompson menyetujui untuk mengikuti tritmen jangka pendek. Hari
berikutnya psikiatris melakukan proses wawancara dengan Anna mengenai gangguan
perasaannya.
Pada
awalnya, Anna ragu-ragu untuk bercerita dan merasa marah kepada ibunya karena
memintanya untuk melakukan ini. Anna bercerita bahwa ia baru saja pindah ke
sekolah baru mengikuti ibunya yang bercerai. Di sekolah baru, Anna merasa bahwa
ia tidak disukai temannya. Ia kecewa adanya diskriminasi sehingga ia hanya
dapat membangun hubungan baik dengan sedikit teman. Teman-teman menghina
dirinya karena ia memiliki tubuh yang gendut. Di sekolah, ia selalu makan siang
sendirian.
Selama
13 bulan terakhir Anna mengalami masa sulit. Orang tuanya berkonflik hingga
akhirnya bercerai. Ibunya kemudian membawanya pindah, memisahkan dirinya dengan
ayah dan adik laki-lakinya yang berusia 6 tahun. Peristiwa ini membuatnya
trauma karena Anna sangat dekat dengan ayah dan adiknya namun sekarang ia tidak
diperbolehkan untuk menghubungi mereka. Anna mengeluh bahwa ia merasa kesepian
karena ibunya terlalu sibuk bekerja dan di sekolah ia tidak punya teman.
Saat
Anna melukai dirinya, Anna bercerita kepada psikiatris bahwa ia sedang merasa
sedih dan bertanya-tanya bagaimana jika ia berniat untuk bunuh diri. Ia
membayangkan bagaimana perasaan keluarganya dan siapa saja yang akan mendatangi
pemakamannya. Anna mengatakan bahwa ia tidak optimis dengan masa depannya dan
menganggap bahwa bunuh diri adalah pilihan terbaik. Akhirnya ia mengambil pisau
dan membuat goresan kecil, kemudian ibunya masuk ke kamarnya. Melihat
pergelangan tangannya berdarah, ibunya berteriak ketakutan. Anna langsung
dibawa ke unit darurat.
Psikiatris
bertanya apakah Anna mempunyai niatan untuk melukai dirinya kembali, Anna
menjawab tidak. Anna menjelaskan bahwa dirinya tidak mau bunuh diri. Anna
berjanji bahwa ia tidak akan melukai dirinya dan akan bercerita kepada
psikiatris jika ada pikiran untuk bunuh diri atau perilaku impulsif lainnya.
Psikiatris kemudian memberi Anna obat sedative ringan.
Psikiatris
mewawancarai ibu Anna, Mrs. Thompson. Mrs. Thompson mengatakan bahwa ia dan
suaminya memiliki banyak perselisihan, khususnya mengenai kebiasaan minum
alkohol dan status sosial ekonomi suaminya. Mrs. Thompson pernah memergogi
suaminya sedang tidur di sebelah Anna di kamar Anna. Mrs. Thompson mencurigai
bahwa Anna telah menjadi korban penganiayaan seksual oleh ayahnya. Namun Anna
menolak, ia mengatakan bahwa ia dan ayahnya tidak melakukan hal tersebut.
Akibatnya, Mrs. Thompson merasa bahwa ia harus membawa Anna pergi. Mrs.
Thompson juga memisahkan Anna dengan adiknya karena merasa bahwa adiknya tidak
pernah patuh. Mrs. Thompson memiliki hubungan yang kurang dekat dengan adik
Anna.
Mrs.
Thompson mengakui bahwa dirinya terlalu sibuk bekerja di kantor dan tidak
memberikan perhatian yang cukup pada Anna.. Anna sudah tidak masuk sekolah 2
minggu dan gagal dalam menjalin hubungan pertemanan. Mrs. Thompson tahu bahwa
Anna memiliki masalah dengan berat badannya, Anna merasa malu dan frustasi.
Mrs. Thompson mengatakan bahwa dirinya sangat shock saat menemukan Anna melukai
dirinya. Kemungkinan bunuh diri tidak pernah terpikirkan oleh Mrs. Thompson.
DAFTAR PUSTAKA
Somaryati & Astutik, Sri (2013).
Family Therapy Dalam Menangani Pola Asuh Orang Tua Yang Salah Pada Anak Slow
Learner. Jurnal Bimbingan dan Konseling
Islam. Vol 03, No 01 (17-35)
http://afiantika.blogspot.com/2014_05_01_archive.html
Roberts, A. R., & Greene, G. J.
(2008). Buku Pintar Pekerja Sosial.
Jakarta:Gunung Mulia
Sabtu, 28 Maret 2015
1.
Buatkan ulasan anda
mengenai :
A. Pendekatan
Psikoanalisa di dalam Psikoterapi
Psikoanalisa
adalah aliran psikologi yang memberi penekanan khusus pada peran
ketidaksadaran. Dua tokohnya yang utama adalah Sigmund Freud yang dikenal
sebagai pendiri psikoanalisa dan Carl Gustav Jung yang dikenal dengan teori
analitisnya. Sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek
psikoanalisa mencakup : 1) Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan
pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan
manusia; 2) Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak
sadar; 3) Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat
terhadap kepribadian di masa dewasa; 4) Teori psikoanalisa menyediakan kerangka
kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam
mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja
untuk menghindari luapan kecemasan; 5) Pendekatan psikoanalisa telah meberikan cara-cara
mencari keterangan dan ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi,
resistensi-resistensi dan transferensi-transferensi.
Tujuan
terapi psikoanalisa adalah membentuk kembali struktur karakter individual
dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien. Proses
terapeutik difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa
kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstruksi, dibahas,
dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepripadian. Terapi
psikoanalisa menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketaksadaran
diketahui.
Karakteristik
psikoanalisa adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya
berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya
kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien, yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan
dan dianalisis. Analis terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam
mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan
personal serta dalam menangani kecemasan secara realistis. Analis terlebih
dahulu harus membangun hubungan kerja dengan klien. Analis memberikan perhatian
khusus pada penolakan-penolakan klien. Sementara yang dilakukan oleh klien
sebagian besar adalah berbicara, yang dilakukan analis adalah mendengarkan dan
berusaha untuk mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran-penafsiran yang
layak untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tak disadari.
Psikoanalisa
memperkenalkan kita dengan dunia ketidaksadaran (the unconscious) yang ada dibalik kesadaran (the conscious). Dalam hipnosis, istilah ketidaksadaran memang
jarang digunakan. Banyak literatur lebih cenderung menggunakan bawah-sadar (the subconscious). Antara tahun 1885 dan
1905, freud mencoba menggunakan hipnosis sebagai sarana terapeutik untuk
regresi dan katarsis. Tidak puas dengan teknik ini, ia lalu mengembangkan
teknik lain yang hingga saat ini dikenal dengan nama asosiasi bebas. Freud
menyarankan perlunya mengkombinasikan teknik-teknik psikoanalisa dengan hipnosis
untuk membuat terapi menjadi lebih singkat dan efektif. Ide ini kemudian
direalisasikan oleh beberapa psikoterapis dan menghasilkan teknik terapeutik
yang dikenal dengan nama hipnoanalisis. Freud menambahkan bahwa diantara
kesadaran dan ketidaksadaran ada wilayah yang disebut prasadar (the preconscious/ the foreconscious)
yang berisi ingatan-ingatan yang sewaktu-waktu masih bisa diangkat ke
kesadaran, seperti nomer telepon atau alamat rumah.
Ketidaksadaran
berisi insting dan pengalaman traumatis yang direpresi. Aktivitas isi-isi
ketidaksadaran potensial menimbulkan kecemasan. Kecemasan itu sendiri potensial
menimbulkan gangguan mental yang disebut neurosis.
Agar terhindar dari gangguan ini, setiap orang mengembangkan mekanisme
pertahanan (defense-mechanism). Ada
begitu banyak mekanisme pertahanan yang dikemukakan Freud. Cukup diingat bahwa
semuanya dilakukan untuk mengatasi kecemasan.
Mengenai
proses terapeutik, freud mengajukan konsep transferensi dalam melihat hubungan
antara terapis dan klien. Dalam sesi terapi, pasti ada muatan-muatan emosional
yang terjalin antara terapis dan klien. Hubungan ini memang diperlukan untuk
menjalin rasa kepercayaan. Dengan kepercayaan itu, klien akan lebih leluasa
mengekspresikan diri.
Baik
Freud maupun Jung sepakat bahwa pribadi yang sehat adalah pribadi yang bisa
membuat akur kesadaran dan ketidaksadarannya. Caranya dengan mengangkat isi-isi
ketidaksadaran ke kesadaran.
B. Pendekatan
Psikologi Belajar di dalam Psikoterapi
Para
pengikut aliran ini menganggap perilaku manusia sebagai hasil belajar. Banyak
teori pembelajaran yang berkembang dalam psikologi berasal dari para pemikir
dalam aliran behaviorisme. Behavorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang
tingkah laku manusian. Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik
dan prosedur yang berakar pada berbagai teori belajar. terapi ini menyertakan
penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku
ke arah cara-cara yang lebih adaptif. Berdasarkan teori belajar, modifikasi
tingkah laku dan terapi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap
konseling dan psikoterapi yang berurusan dengan pengubahan tingkah laku. Terapi
tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai
oleh: 1) pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik, 2)
kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment,
3) perumusan prosedur treatment yang
spesifik yang sesuai dengan masalah, dan 4) penafsiran objektif atas
hasil-hasil terapi. Terapi tingkah laku tidak berlandaskan sekumpulan konsep
yang sistematik, juga tidak berakar pada suatu teori yang dikembangkan dengan
baik. Sekalipun memiliki banyak teknik, terapi tingkah laku hanya memiliki
sedikit konsep. Terapi ini merupakan suatu pendekatan induktif yang
berlandaskan eksperimen-eksperimen dan menerapkan metode eksperimental pada
proses terapeutik.
Tujuan-tujuan
konseling dan psikoterapi menduduki suatu tempat yang sangat penting dalam
terapi tingkah laku. Klien menyeleksi tujuan-tujuan terapi yang secara spesifik
ditentukan pada permulaan proses terapeutik. Tujuan umum terapi tingkah laku
adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya
ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku
neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan
tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Terapi tingkah laku pada
hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif dan
pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang didalamnya terdapat respon-respon
yang layak. Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam
pemberan treatment, yakni terapis
menerapkan oengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia,
para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah
laku yang baru dan adjustive.
Diantara
banyak pemikiran dalam behaviorisme,
pengondisian klasik dari Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan pengondisian
operan dari Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Pemikiran kedua tokoh ini
akan membantu dalam memahami proses induksi (proses mengantar klien sampai pada
tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans).
-
Pengondisian Klasik
Pengondisian
klasik kadang-kadang juga disebut pengondisian responden atau belajar
asosiasional. Pengondisian disini bisa diartikan sebagai pembiasaan.
Prinsip-prinsip pengondisian klasik sering kali didasarkan pada penelitian
Pavlov tentang refleks di akhir tahun 1800-an. Pavlov membagi refleks menjadi
dua, yaitu refleks bawaan dan refleks terkondisikan. Refleks bawaan adalah
respon yang diberikan tanpa melalui proses belajar seperti terkejut ketika
terkena serangan listrik, sementara refleks terkondisikan adalah respons yang
mucul sebagai hasil belajar.
- Pengondisian Operan
Di
tahun 1930-an, seorang pemikir lain dalam behaviorisme yang bernama Burrhus
Frederick Skinner mengemukakan pemikirannya tentang pengondisian operan yaitu
proses belajar bisa tercapai lewat penguatan (reinforcement). Istilah penguatan seringkali diganti dengan “hadiah
(reward)”. Penguatan atau hadiah
adalah situasi atau stimulus yang menguatkan respons seseorang. Dalam konteks
hipnoterapi, penguatan yang baik akan menimbulkan respons positif yang nantinya
akan bermanfaat untuk mengubah perilaku.
C. Pendekatan
Psikologi Humanistik di dalam Psikoterapi
Psikologi
humanistis berorientasi pada keunikan manusia dan pemahaman yang positif dan
optimistis tentang kepribadian manusia. Seorang terapis dituntut untuk selalu
berkonsentrasi pada sisi sehat manusia, bukan pada sisi sakitnya. Dua tokohnya
yg utama adalah Abraham Harold Maslow dan Carl Ransom Rogers.umumnya banyak
orang mengenal Abraham Maslow lewat teori hierarki kebutuhannya. Hierarki
kebutuhan berarti bahwa terpenuhinya kebutuhan yang lebih rendah akan mendorong
ke pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi. Pandangan Maslow lebih banyak
bernuansa teoritis. Aspek praktis dari pemikiran humanistis ditemui dalam
terapi yang berpusat pada pribadi(person-centered
therapy) yang dikembangkan oleh Carl Rogers. Menurut Rogers, diri yang ada
dalam setiap manusia dapat dilihat sebagai segitiga. Segi pertama adalah diri
yang sesungguhnya (real self) yaitu
aku seperti apa adanya. Segi kedua adalah diri yang dipersepsikan (perceived self) yaitu aku seperti yang
diinterpretasikan atau dipersepsikan. Segi ketiga adalah diri ideal (ideal self) yaitu diri yang aku
cita-citakan.
Menurut
Rogers, setiap orang punya dorongan untuk memandang dirinya secara positif (positive self-regard), Rogers menekankan
betul pentingnya unconditional positive
regard (penerimaan positif tanpa syarat) dalam proses terapeutik. Klien
harus diterima apa adanya, tanpa syarat (condition)
dan tanpa penilaian.
Dalam
hipnoterapi, ada kecenderungan bagi terapis untuk menerima klien-kliennya
sebelum mendengarkan mereka. Klien yang datang menemui terapis tidak meminta
untuk dinilai, mereka hanya butuh iklim yang nyaman untuk bercerita tentang
pengalaman mereka. Terapis semestinya membantu menciptakan iklim itu lewat
penerimaan klien tanpa prasangka dan prapenilaian. Psikologi humanistis
mengajak kita untuk berfokus pada sisi sehat kepribadiaan manusia dengan
mengembangkan unconditional positive
regard dan empati.baik terapis maupun klien perlu melihat tubuh dengan
kacamata sehat. Penyakit yang dialami tubuh menunjukkan ketidakseimbangan.
Berpikir secara humanistis berarti berpikir tentang cara mengalirkan energi ke
arah yang baik.
D. Pendekatan
Psikologi Kognitif di dalam Psikoterapi
Terapi
kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur,
aktif,direktif dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan
dalam kepribadian misalnya ansietas atau depresi. Terapi ini didasarkan pada
teori bahwa afek (keadaan emosi, perasaan) dan tindakan seseorang, sebagian
besar ditentukan oleh bagaimana seseorang tersebut membentuk dunianya. Orientasi
utama psikologi kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir dan merasa disaat
ini. Perilaku adalah efek dari pikiran dan perasaan, untuk itu bisa dimengerti
mengapa terapi-terapi kognitif menekankan perlunya mengubah perilaku yang tidak
sehat dengan mengubah cara klien dalam berpikir dan merasa. Salah satu tokoh
penting yang banyak meneliti proses kognitif adalah Aaron Beck. Menurut Beck,
banyak gangguan psikologis disebabkan oleh pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan negatif. Pikiran dan perasaan negatf berkembang menjadi
kepercayaan negatif sehingga perlu ditata ulang (direstrukturisasi) dan
ditransformasikan menjadi kepercayaan yang positif. Lingkungan sangat potensial
menyebabkan seseorang mengembangkan kepercayaan negatif dalam melihat berbagai
kejadian. Terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki
fungsi kognisi yang terhambat yang mendasari aspek kognitifnya yang ada.
Terapis dengan pendekatan kognitif mengajar pasien atau klien agar berpikir
lebih realistik dan sesuai sehingga dengan demikian akan menghilangkan atau
mengurangi gejala yang berkelainan yang ada.
2. Uraikanlah
kasus apa saja yang bisa ditangani dengan pendekatan :
A. Psikodinamik
Seorang
remaja yang mempunyai rasa benci kepada ayahnya karena pengalaman-pengalaman
dimasa kecilnya bersama ayahnya yang sangat keras, suka mengkritik dan tidak
pernah puas sama hasil belajaar yang diperoleh remaja tersebut.
B. Behavioristik
Seorang
anak yang sangat sulit disuruh makan. Si anak ini kalau disuruh makan selalu
saja menolak dengan berbagai macam alasan seperti sudah kenyang, tidak nafsu
makan atau makanannya tidak enak terkadang ia sampai marah-marah sambil
membanting piring saat disuruh makan.
C. Humanistik
Seorang
mahasiswi mengira bahwa dia mulai sangat sayang pada adiknya bertentangan
dengan pikiran itu, karena ternyata dia berkali-kali mengucapkan kata-kata yang
penuh rasa iri kepada adiknya yang sudah mempunyai pacar. Padahal, ini menunjuk
pada suatu pertentangan antara siapa saya ini yang sebenarnya dan seharusnya
menjadi orang yang bagaimana. Mahasiswi mulai menyadari kesenjangan dan
mengakui pertentangan itu, dia menghadapi keadaan dirinya sebagaimana adanya.
Kesadaran yang masih samar-samar akan kesenjangan itu mengganjal dalam perasaan
kurang tenang dan cemas serta dalam evaluasi diri sebagai orang yang tidak
pantas.
D. Kognitif
Seorang
siswa suatu SMA dikota besar, kelas 3 SMA. Program studi IPS, ia tinggal
bersama orang tuanya yang mendukung cita-citanya menjadi seorang guru
akuntansi. Siswa tersebut berharap dapat diterima di Universitas Negeri
dikotanya sendiri. Dia juga berhasil dalam mengikat hati seorang siswi di
SMAnya. Mereka sudah biasa jalan bersama, meskipun siswi tersebut
sembunyi-sembunyi selama mereka berdua jalan bersama. Setelah 1 tahun mereka
saling dekat dan jalan berdua siswi tersebut mengatakan bahwa orang tuanya
telah mengetahui hubungan mereka dan memarahi siswi tersebut bahkan orang
tuanya mengancam ini itu. Siswa itu merasa terpaksa mmutuskan hubungan karena
dia tidak berani melawan orang tua. siswa tersebut merasa depresi dan berfikir
“apa gunanya meneruskan hidup didunia ini? Saya tidak rela dicintai oleh
perempuan lain ataupun mencintai perempuan lain. Hanya perempuan satu ini yang
menjadi idaman saya! Sumber semangat belajar dan pendukung cita-citaku sudah
lenyap!” Ia sudah mempunyai pemikiran-pemikiran yang irasional yaitu ingin
mengakhiri hidupnya karena sudah merasa tidak berguna untuk meneruskan hidup
tanpa pacarnya. Selain itu siswa tersebut telah mencoba menarik diri dari
kehidupannya yang nyata dan berada dalam fantasinya. Siswa tersebut sudah bolos
sekolah satu minggu. Keyakinan ini timbul akibat depresi yang dialaminya.
3. Berikan
pandangan anda mengapa kasus-kasus tersebut anda anggap bisa ditangani oleh
pendekatan :
A. Psikodinamik
Pada
contoh kasus diatas bisa ditangani oleh pendekatan psikodinamik yaitu analisis
dan penafsiran transferensi. Analisis transferensi adalah teknik yang utama
dalam psikodinamik sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa
lampaunya dalam terapi, dan pendekatan ini membuat klien merasa nyaman dan puas
untuk mengikuti pengarahan yang dipaparkan terapis.
B. Behavioristik
Pada
contoh kasus diatas bisa ditangani oleh pendekatan behavioristik yaitu token
economy dimana setiap kali anak mau makan akan diberikan poin, jika poin-poin
tersebut dapat terkumpul banyak maka bisa ditukarkan dengan barang yang disukai
anak tersebut seperti sepeda.
C. Humanistik
Pada
contoh kasus diatas bisa ditangani oleh pendekatan humanistik yaitu Client Centered Therapy dimana
menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang
pribadi yang berfungsi penuh. Terapis perlu mengusahakan agar klien bisa
memahami hal-hal yang ada dibalik topeng yang dikenakannya. Klien mengembangkan
kepura-puraan dan bertopeng sebagai pertahanan terhadap ancaman.
D. Kognitif
Pada
contoh kasus diatas bisa ditangani oleh pendekatan kognitif yaitu Rational Emotive Therapy (RET) untuk
memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta
pandangan klien yang irrasional menjadi rasional dan logis agar klien dapat
mengembangkan dirinya dan mencapai realisasi diri yang optimal. Dalam
penerapannya RET dapat menghilangkan gangguan seperti benci, rasa takut, rasa
bersalah, cemas, marah, sebagai akibat berfikir yang irrasional dan melatih
serta mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara rasional dan
membangkitkan kepercayaan diri, nilai-nilai dan kemampuan diri klien tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.Bandung:PT
Refika Aditama
Gunarsa, Singgih D. 2007. Konseling dan Psikoterapi.Jakarta:Gunung
Mulia
Kahija, YF La. 2007. Hipnoterapi : Prinsip-Prinsip Dasar Praktik
Psikoterapi. Jakarta:PT Gramedia Pusaka Utama
Selasa, 27 Januari 2015
1.
Peranan Konflik dalam
Mengembangkan manajemen
Konflik pasti menjadi suatu hal yang wajar yang
pernah dilalui oleh perusahaan. Konflik dapat berupa perselesihan
(disagreement), konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah
pihak, sampai kepada tahap dimana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama
lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan
masing-masing. Menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan
oleh adanya kekuatan saling bertentangan, kekuatan-kekuatan ini bersumber pada
keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah
yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Contoh
Kasus:
Pada tanggal 22 April 2010, ribuan karyawan sebuah
perusahaan galangan kapal, yang berlokasi di Tanjung Udang, Batam, turun untuk
berdemonstrasi dan melakukan aksi pembakaran terhadap fasilitas perusahaan.
Media memberitakan paling tidak 9 orang terluka dan puluhan mobil dibakar.
Konflik bermula dari umpatan seorang supervisor asal India yang mengatakan
bahwa orang Indonesia “stupid” kepada tenaga kerja Indonesia. Tetapi pemicu
dari kerusuhan ini tidak hanya itu saja, akumulasi dari rasa kesal terhadap
pembedaan dalam gaji dan fasilitas antara tenaga kerja Indonesia dan tenaga
kerja asing merupakan faktor terjadinya konflik. Selain itu, dalam wawancara
dengan beberapa karyawan perusahaan, diketahui bahwa perusahaan ini tidak
menerapkan undang-undang yang mengatur dengan jelas perekrutan tenaga kerja
oleh Investasi Asing di Indonesia.
Sementara itu, pekerja kontrak dibayar per jam, yang
nilainya relatif kecil karena terpotong-potong. Tenaga kerja tetap mendapatkan
fasilitas pengamanan pekerjaan yang bagus, sedangkan karyawan kontrak harus
melengkapi keselamatan diri sendiri.
Rangkuman
Keadaan:
ribuan karyawan berdemonstrasi dan melakukan aksi
pembakaran terhadap fasilitas perusahaan. Konflik bermula dari umpatan seorang
supervisor asal India yang mengatakan bahwa orang Indonesia “stupid” kepada
tenaga kerja Indonesia. Tetapi pemicu dari kerusuhan ini tidak hanya itu saja,
akumulasi dari rasa kesal terhadap pembedaan dalam gaji dan fasilitas antara
tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja asing merupakan faktor terjadinya
konflik.
Penyelesaian :
Dalam konflik diatas seharusnya dapat memperhatikan perbedaan kultur diantara
karyawannya dan kemudian memutuskan cara pendekatan seperti apa yang sesuai
untuk menciptakan kondisi yang baik untuk kepentingan perusahaan. Dalam hal
gaji harus seimbang antara tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja asing
2. Peranan
Kepemimpinan untuk mengatasi konflik
Pengertian Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan
dalam bukunya “manajemen sumber daya manusia” (1997). Pemimpin (Leader = head)
adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan
bawahan untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan
organisasi. Kristo (2009), pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki 3K
yaitu Karakter, keterampilan dan komitmen. Karakter, menunjukkan
bagaimana seseorang membuat dan menentukan sebuah kepurusan. Karakter inilah
yang menentukan sifat, perkataan, dan tindakan seseorang. Keterampilan, adalah sebuah kemampuan yang
dimiliki oleh seseorang untuk menyelesaikan tugas, kemampuan untuk
bertindak, kemampuann untuk beradaptasi, dan kemampuan untuk berpikir
besar. Komitmen, merupakan
sebuah perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu. Jika seseorang telah membuat
sebuah perjanjian maka harus ditepati karena adanya sebuah keterikatan.
Contoh Kasus
Wonosari, (sorotgunungkidul.com)--Merasa diperlakukan tidak adil oleh Perusahaan Manufaktur, Eko Darobi (35) mengadu ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul. Dia mengaku dipecat secara sepihak oleh perusahaan. Padahal, sejak PT tersebut berdiri 4 tahun lalu, dirinya telah banting tulang sebagai tenaga kontrak.
Wonosari, (sorotgunungkidul.com)--Merasa diperlakukan tidak adil oleh Perusahaan Manufaktur, Eko Darobi (35) mengadu ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul. Dia mengaku dipecat secara sepihak oleh perusahaan. Padahal, sejak PT tersebut berdiri 4 tahun lalu, dirinya telah banting tulang sebagai tenaga kontrak.
Dihadapan Yustina Sri Sarimukti, Kabid HI dan Ketenaga kerjaan,
Dinsosnakertrans Gunungkidul, Eko menyampaikan keluhannya.
"Sebagai tenaga kontrak, sesuai aturan saya telah menanyakan ke HRD tentang nasib saya. Diperpanjang ataukah diputus kontrak ? Awal Desember dijawab diperpanjang, ternyata 4 Desember 2014 saya dipecat," jelasnya, Kamis (22/01/2015).
Eko juga mengungkapkan, banyak hak karyawan yang tidak dipenuhi perusahaan,. Ekstra lembur hingga pesangon karyawan tidak ada.
"Dulu sebelum ganti manajemen ada uang lembur, tetapi sekarang karyawan dibohongi. Modusnya jika dikejar target pekerja disuruh masuk walaupun hari libur, nanti liburnya diganti hari lain. Demikian juga pesangon, karyawan dengan masa kerja 2 tahun lebih jika putus kontrak harusnya ada pesangon. Tetapi ini tidak, saya yang 4 tahun lebih saja tanpa pesangon," tambahnya.
"Sebagai tenaga kontrak, sesuai aturan saya telah menanyakan ke HRD tentang nasib saya. Diperpanjang ataukah diputus kontrak ? Awal Desember dijawab diperpanjang, ternyata 4 Desember 2014 saya dipecat," jelasnya, Kamis (22/01/2015).
Eko juga mengungkapkan, banyak hak karyawan yang tidak dipenuhi perusahaan,. Ekstra lembur hingga pesangon karyawan tidak ada.
"Dulu sebelum ganti manajemen ada uang lembur, tetapi sekarang karyawan dibohongi. Modusnya jika dikejar target pekerja disuruh masuk walaupun hari libur, nanti liburnya diganti hari lain. Demikian juga pesangon, karyawan dengan masa kerja 2 tahun lebih jika putus kontrak harusnya ada pesangon. Tetapi ini tidak, saya yang 4 tahun lebih saja tanpa pesangon," tambahnya.
Eko Darobi Merasa diperlakukan tidak adil oleh
Perusahaan Manufaktur, Dia mengaku dipecat secara sepihak oleh perusahaan.
banyak hak karyawan yang tidak dipenuhi perusahaan. Dulu sebelum ganti
manajemen ada uang lembur, tetapi sekarang karyawan dibohongi. Modusnya
jika dikejar target pekerja disuruh masuk walaupun hari libur, nanti liburnya diganti
hari lain. Demikian juga pesangon, karyawan dengan masa kerja 2 tahun
lebih jika putus kontrak harusnya ada pesangon. Tetapi ini tidak, ia yang 4
tahun lebih saja tanpa pesangon.
Penyelesaian
Dari permasalahan diatas seharusnya perusahaan bisa
memenuhi hak karyawan sesuai dengan yang dikerjakannya, seperti mendapat uang
lembur, uang THR, dan memberikan pesangon kepada karyawan yang putus kontrak
lebih dari 2 tahun.
3. Praktek
dehumanisasi yang biasanya sering muncul dalam manajemen
Dehumanisasi sering terjadi kepada para pekerja kasusnya seperti pada perempuan dan orang cacat , yang melakukan tindakan kasar dan keras kepada pekerja dimana mereka diperlakukan tidak adil seperti diskriminasi antara karyawan perempuan dan laki-laki dalam hal perbedaan gaji
Kasus
Pertama
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Diskriminasi terhadap buruh perempuan, mestinya menjadi isu utama yang diangkat untuk memperingati hari buruh yang jatuh pada Rabu (1/5). Karena paradigma yang dialami oleh sebagian besar buruh perempuan Indonesia, seringkali menempatkan buruh perempuan sebagai korban.
Banyak perusahaan atau pengusaha lebih memilih untuk mempekerjakan buruh perempuan dibandingkan dengan buruh laki-laki. Alasannya, karena buruh perempuan lebih rajin, enggan terlibat dalam serikat pekerja, dan cenderung patuh kepada majikan. Padahal dalam pelaksanaannya, mayoritas pekerja perempuan yang dipekerjakan dengan perjanjian outsourching atau pekerja temporer, lebih mudah terkena PHK. Hal ini bisa terjadi tanpa alasan yang jelas, bisa karena pekerja tersebut hamil atau terlibat dalam serikat pekerja.
Berbagai kebijakan diskriminatif juga masih dialami oleh pekerja perempuan. Untuk jurnalis perempuan, masih banyak yang belum mendapatkan hak dan asuransi, seperti pekerja laki-laki. Jurnalis perempuan yang bekerja di televisi, kebanyakan hanya dinilai dari daya tarik fisik, tanpa melihat kemampuannya. Di kasus lain, minimnya jumlah pekerja perempuan yang menempati posisi sebagai pengambil keputusan dalam suatu perusahaan atau organisasi, juga merupakan tindakan diskriminatif.
Sejumlah hak-hak bagi pekerja perempuan masih sering diabaikan oleh perusahaan. Seperti Hak Reproduksi, yang meliputi cuti haid, cuti hamil dan melahirkan, menyusui dengan benar, memilih pasangan untuk menikah. Walaupun semestinya hak-hak ini diatur dalam perjanjian kerja bersama, namun hanya perusahaan yang memiliki serikat pekerja yang kuat, yang memberikan fasilitas untuk hak-hak tersebut.
Dalam hal pemberian upah, pekerja perempuan juga sering mendapat diskriminasi. Seperti tunjangan keluarga hanya didapatkan oleh pekerja laki-laki, sedangkan pekerja perempuan tidak. Lemahnya pengawasan Departemen Tenaga Kerja juga dituding sebagai penyebab kasus pekerja perempuan menerima upah lebih rendah meskipun mereka memiliki pekerjaan yang sama dengan pekerja laki-laki. Sedangkan pada kasus lain, pekerja perempuan dikeluarkan dari pekerjaannya karena menyatakan tentang status kesehatannya.
Sedangkan dari segi keselamatan dan beban kerja, sejumlah perusahaan seringkali melakukan pelanggaran. Seperti dalam sebuah pabrik seluruh pekerja wajib berdiri, tidak ada perkecualian bagi yang hamil dan haid. Tidak tersedianya toilet terpisah, dan pengurangan jumlah pegawai yang menyebabkan bertambahnya beban kerja, menyebabkan ke toilet saja tidak sempat, serta pemaksaan bekerja lembur.
Pekerja perempuan pun sangat rentan mengalami pelecehan seksual. Dari pelecehan ringan seperti disiuli atau dirayu sampai ke tindak perkosaan atau pemaksaan untuk melayani kebutuhan seksual atasan
Kasus Kedua
BEIJING, KOMPAS.com - Pihak berwenang China menutup sebuah pabrik di barat negara karena diduga telah memperbudak 11 orang pekerja, kebanyakan cacat mental, selama bertahun-tahun dalam kondisi yang sangat menyedihkan, lapor media pemerintah Selasa (14/12).
Kasus tersebut, yang merupakan contoh terbaru penyalahgunaan tenaga kerja di negara yang luas itu, muncul tiga tahun setelah kasus skandal perbudakan besar yang melibatkan ribuan pekerja yang ditemukan dipaksa bekerja di tempat pembakaran batu-bata.
Ke-11 orang itu bekerja di sebuah pabrik bahan bangunan di Xinjiang barat dengan jam kerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan yang layak untuk anjing, lapor Beijing News. Mereka bekerja di sebuah pabrik bernama Jiaersi Green Construction Material Chemical Factory dan tak satu pun dari mereka yang dibayar, kata laporan itu. Beberapa dari mereka telah bekerja selama empat tahun. Para pekerja yang mencoba untuk melarikan diri dipukuli secara rutin.
Menurut pemilik pabrik itu, Li Xinglin, para pekerja dikontrak untuk bekerja di pabrik tersebut oleh sebuah lembaga bantuan yang tidak terdaftar bagi penyandang cacat yang berbasis di Provinsi Sichuan di barat daya negara itu, kata Beijing News. Li mengaku, ia telah membayar ke agen itu sebesar 9.000 yuan (1.350 dollar AS) untuk pengiriman lima orang dari para pekerja itu serta tambahan 300 yuan per pekerja per bulan, kata harian tersebut.
Kantor berita Xinhua mengatakan, polisi di Xinjiang dan Sichuan tengah melancarkan perburuan terhadap Li setelah dia melarikan diri dari pabrik itu bersama sejumlah pekerja. Istri Li telah ditahan polisi, demikian dilaporkan. Kepala badan bantuan itu, yang diidentifikasi sebagai Zeng Lingquan, juga ditahan oleh polisi di Sichuan atas dugaan menjerumuskan pekerja ke dalam perbudakan, kata Xinhua.
Tahun 2007, ribuan orang dipaksa untuk bekerja di pembakaran batu-bata di Provinsi Henan dan Shanxi, di mana mereka mengalami pemukulan secara rutin dan kelaparan. Pengungkap terhadap kasus itu mengejutkan China. Meskipun tidak ada angka resmi yang telah dilaporkan tentang berapa banyak orang diperbudak, penyelidikan parlemen mengatakan, sebanyak 53.000 pekerja migran telah bekerja di lebih dari 2.000 tempat pembakaran batu-bata ilegal hanya di Shanxi saja. Sejak saat itu, kasus-kasus perbudakan serupa secara sporadis dilaporkan terjadi di seluruh China.
Mei lalu, polisi menyelamatkan 34 orang yang dipaksa untuk bekerja di sebuah pembakaran batu-bata di Provinsi Hebei, China utara, demikain lapor media pemerintah saat itu. Sebelas orang ditahan karena "menggunakan metode seperti pemukulan, penyeteruman, intimidasi dan pembatasan kebebasan, untuk memaksa buruh migran terlibat dalam kerja manual yang berat", lapor Yanzhao Metropolis Daily
Pelanggaran yang terjadi jika praktek dehumanisasi berlangsung adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi pada pekerja perempuan dan orang cacat.
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Diskriminasi terhadap buruh perempuan, mestinya menjadi isu utama yang diangkat untuk memperingati hari buruh yang jatuh pada Rabu (1/5). Karena paradigma yang dialami oleh sebagian besar buruh perempuan Indonesia, seringkali menempatkan buruh perempuan sebagai korban.
Banyak perusahaan atau pengusaha lebih memilih untuk mempekerjakan buruh perempuan dibandingkan dengan buruh laki-laki. Alasannya, karena buruh perempuan lebih rajin, enggan terlibat dalam serikat pekerja, dan cenderung patuh kepada majikan. Padahal dalam pelaksanaannya, mayoritas pekerja perempuan yang dipekerjakan dengan perjanjian outsourching atau pekerja temporer, lebih mudah terkena PHK. Hal ini bisa terjadi tanpa alasan yang jelas, bisa karena pekerja tersebut hamil atau terlibat dalam serikat pekerja.
Berbagai kebijakan diskriminatif juga masih dialami oleh pekerja perempuan. Untuk jurnalis perempuan, masih banyak yang belum mendapatkan hak dan asuransi, seperti pekerja laki-laki. Jurnalis perempuan yang bekerja di televisi, kebanyakan hanya dinilai dari daya tarik fisik, tanpa melihat kemampuannya. Di kasus lain, minimnya jumlah pekerja perempuan yang menempati posisi sebagai pengambil keputusan dalam suatu perusahaan atau organisasi, juga merupakan tindakan diskriminatif.
Sejumlah hak-hak bagi pekerja perempuan masih sering diabaikan oleh perusahaan. Seperti Hak Reproduksi, yang meliputi cuti haid, cuti hamil dan melahirkan, menyusui dengan benar, memilih pasangan untuk menikah. Walaupun semestinya hak-hak ini diatur dalam perjanjian kerja bersama, namun hanya perusahaan yang memiliki serikat pekerja yang kuat, yang memberikan fasilitas untuk hak-hak tersebut.
Dalam hal pemberian upah, pekerja perempuan juga sering mendapat diskriminasi. Seperti tunjangan keluarga hanya didapatkan oleh pekerja laki-laki, sedangkan pekerja perempuan tidak. Lemahnya pengawasan Departemen Tenaga Kerja juga dituding sebagai penyebab kasus pekerja perempuan menerima upah lebih rendah meskipun mereka memiliki pekerjaan yang sama dengan pekerja laki-laki. Sedangkan pada kasus lain, pekerja perempuan dikeluarkan dari pekerjaannya karena menyatakan tentang status kesehatannya.
Sedangkan dari segi keselamatan dan beban kerja, sejumlah perusahaan seringkali melakukan pelanggaran. Seperti dalam sebuah pabrik seluruh pekerja wajib berdiri, tidak ada perkecualian bagi yang hamil dan haid. Tidak tersedianya toilet terpisah, dan pengurangan jumlah pegawai yang menyebabkan bertambahnya beban kerja, menyebabkan ke toilet saja tidak sempat, serta pemaksaan bekerja lembur.
Pekerja perempuan pun sangat rentan mengalami pelecehan seksual. Dari pelecehan ringan seperti disiuli atau dirayu sampai ke tindak perkosaan atau pemaksaan untuk melayani kebutuhan seksual atasan
Kasus Kedua
BEIJING, KOMPAS.com - Pihak berwenang China menutup sebuah pabrik di barat negara karena diduga telah memperbudak 11 orang pekerja, kebanyakan cacat mental, selama bertahun-tahun dalam kondisi yang sangat menyedihkan, lapor media pemerintah Selasa (14/12).
Kasus tersebut, yang merupakan contoh terbaru penyalahgunaan tenaga kerja di negara yang luas itu, muncul tiga tahun setelah kasus skandal perbudakan besar yang melibatkan ribuan pekerja yang ditemukan dipaksa bekerja di tempat pembakaran batu-bata.
Ke-11 orang itu bekerja di sebuah pabrik bahan bangunan di Xinjiang barat dengan jam kerja yang panjang, mengalami pemukulan secara reguler, dan diberi makanan yang layak untuk anjing, lapor Beijing News. Mereka bekerja di sebuah pabrik bernama Jiaersi Green Construction Material Chemical Factory dan tak satu pun dari mereka yang dibayar, kata laporan itu. Beberapa dari mereka telah bekerja selama empat tahun. Para pekerja yang mencoba untuk melarikan diri dipukuli secara rutin.
Menurut pemilik pabrik itu, Li Xinglin, para pekerja dikontrak untuk bekerja di pabrik tersebut oleh sebuah lembaga bantuan yang tidak terdaftar bagi penyandang cacat yang berbasis di Provinsi Sichuan di barat daya negara itu, kata Beijing News. Li mengaku, ia telah membayar ke agen itu sebesar 9.000 yuan (1.350 dollar AS) untuk pengiriman lima orang dari para pekerja itu serta tambahan 300 yuan per pekerja per bulan, kata harian tersebut.
Kantor berita Xinhua mengatakan, polisi di Xinjiang dan Sichuan tengah melancarkan perburuan terhadap Li setelah dia melarikan diri dari pabrik itu bersama sejumlah pekerja. Istri Li telah ditahan polisi, demikian dilaporkan. Kepala badan bantuan itu, yang diidentifikasi sebagai Zeng Lingquan, juga ditahan oleh polisi di Sichuan atas dugaan menjerumuskan pekerja ke dalam perbudakan, kata Xinhua.
Tahun 2007, ribuan orang dipaksa untuk bekerja di pembakaran batu-bata di Provinsi Henan dan Shanxi, di mana mereka mengalami pemukulan secara rutin dan kelaparan. Pengungkap terhadap kasus itu mengejutkan China. Meskipun tidak ada angka resmi yang telah dilaporkan tentang berapa banyak orang diperbudak, penyelidikan parlemen mengatakan, sebanyak 53.000 pekerja migran telah bekerja di lebih dari 2.000 tempat pembakaran batu-bata ilegal hanya di Shanxi saja. Sejak saat itu, kasus-kasus perbudakan serupa secara sporadis dilaporkan terjadi di seluruh China.
Mei lalu, polisi menyelamatkan 34 orang yang dipaksa untuk bekerja di sebuah pembakaran batu-bata di Provinsi Hebei, China utara, demikain lapor media pemerintah saat itu. Sebelas orang ditahan karena "menggunakan metode seperti pemukulan, penyeteruman, intimidasi dan pembatasan kebebasan, untuk memaksa buruh migran terlibat dalam kerja manual yang berat", lapor Yanzhao Metropolis Daily
Pelanggaran yang terjadi jika praktek dehumanisasi berlangsung adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi pada pekerja perempuan dan orang cacat.
DAFTAR PUSTAKA
Luthans F. 1981. Origanizational
Behavior. Singapore: Mc Graw Hill
Kristo, M. T. 2009. Suara
Pemimpin. Jakarta:Elex Media Komputindo
http://www.sorotgunungkidul.com/berita-gunungkidul-10668-dipecat-sepihak-eko-wadul-dinsosnakertrans.html
www.drydocksworld-southasia.com
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)



